Validasi metode adalah konfirmasi bahwa metode yang bersangkutan memenuhi persyaratan tujuan penggunaannya, yaitu melalui cara menganalisis metode dan mengumpulkan bukti-bukti yang objektif. Sesuai dengan definisi tersebut maka dalam validasi metode dilakukan :
• Evaluasi kemampuan unjuk kerja metode, misalnya kepekaan, akurasi, selektivitas dan sebagainya.
• Evaluasi metode menggunakan peralatan yang unjuk kerjanya memenuhi persyaratan dan cukup terkalibrasi, serta dilaksanakan oleh tenaga yang kompeten dan mampu memberikan interpretasi terhadap hasil-hasil observasi yang diperoleh.
Metode-Metode yang Memerlukan Validasi
• Metode tidak baku
• Metode yang baru dikembangkan, yaitu karena karakteristik unjuk kerjanya belum diketahui (yang berkaitan dengan tujuan penggunaannya)
• Metode standar yang dimodifikasi untuk penggunaan lain, validasi yang diperlukan bergantung kepada tingkat modifikasi.
• Metode yang digunakan di laboratorium lain, oleh analis yang lain atau menggunakan instrumentasi lain, karena biasanya metode apapun (termasuk metode standar) yang diterapkan di suatu laboratorium akan mengalami ”penyesuaian” agar sesuai dengan situasi dan kondisi laboratorium tersebut (termasuk dalam hal instrumentasi yang mungkin harus memiliki spesifikasi unjuk kerja tertentu dan analisnya mungkin harus mempunyai tingkat kompetensi tertentu). Validasinya bergantung kepada tingkat penyesuaian yang dilakukan.
• Metode baku yang digunakan diluar lingkup
• Metode yang unjuk kerjanya dibandingkan dengan metode standar yang sudah divalidasi atau sudah diketahui kemampuan maupun keterbatasannya.
Parameter Validasi Metode Analisis
• Kecermatan (accurasi)
Kecermatan metode Analisis adalah ukuran kedekatan hasil Analisis suatu metode dengan kadar sampel yang sebenarnya. Kecermatan dinyatakan sebagai persentase perolehan kembali (recovery) dari penambahan sejumlah analit pada sampel. Kecermatan (accurasi) merupakan ukuran ketepatan prosedur Analisis. Kecermatan ditentukan dengan dua cara yaitu metode simulasi (spiked-placebo recovery) atau metode penambahan baku (standar addition method). Kecermatan dinyatakan dalam % perolehan kembali. Presentase perolehan kembali dapat dihitung sebagai berikut:
% Perolehan Kembali = (C1 – C2) / C3 x 100%
Keterangan : C1 : konsentrasi dari analit dalam campuran contoh + sejumlah tertentu analit
C2 : konsentrasi dari analit dalam contoh
C3 : konsentrasi dari analit yang ditambahkan ke dalam contoh.
Perolehan kembali yang baik adalah 96 – 105 % (untuk konsentrasi menengah) 90 – 110 % (untuk konsentrasi rendah).
• Keseragaman (Precision)
Keseragaman adalah derajat kesesuaian sekelompok hasil Analisis secara individual jika suatu metode digunakan secara berulang terhadap beberapa sampel yang homogen. Keseragaman dapat dinyatakan sebagai keterulangan (repeatability) atau ketertiruan (reproducibility). Keseragaman dapat ditentukan paling sedikit tujuh sampel yang diambil dari campuran sampel dengan matriks yang homogen, atau tiga konsentrasi analit dalam rentang tertentu dengan masing-masing tiga replikasi.
Kriteria seksama diberikan jika metode memberikan koefisien variansi 2% atau kurang, tetapi kriteria ini sangat fleksibel tergantung pada konsentrasi analit yang diperiksa, jumlah sampel dan kondisi laboratorium. Keseragaman dinyatakan sebagai standard deviation (SD) atau relative standard deviation (RSD) atau koefisien variasi (CV).
Relative standar deviasi (RSD) = SD/ x *100%
• Spesifitas dan Selektivitas
Spesifitas suatu metode analisis adalah kemampuan untuk mengukur analit secara cermat dan spesifik dengan keberadaan komponen lain yang diperkirakan ada dalam matriks sampel. Selektivitas seringkali dinyatakan sebagai derajat bias terhadap hasil analisis yang diperoleh dengan menganalisis sampel yang mengandung cemaran, hasil peruraian produk, senyawa kimia sejenis atau bahan tambahan yang sengaja ditambahkan, kemudian dibandingkan terhadap hasil Analisis sampel yang tidak mengandung bahan lain yang ditambahkan. Sedangkan selektifitas adalah kemampuan metode memberikan sinyal analit pada campuran analit dalam sampel tanpa adanya pengaruh matriks
• Linieritas metode Analisis
Linieritas metode Analisis adalah kemampuan metode Analisis untuk mendatangkan hasil Analisis (respon) yang secara langsung atau dengan bantuan transpormasi matematika, sebanding dengan konsentrasi analit dalam sampel. Kelinieran suatu metode harus Dianalisis untuk membuktikan adanya hubungan linier antara konsentrasi analit dengan respon instrumen. Syarat linieritas dapat ditentukan dari koefisien korelasi (r) yang mendekati sama dengan satu.
• Batas deteksi (Limit of Detection, LOD)
Batas deteksi (Limit of Detection, LOD) adalah konsentrasi analit terkecil pada sampel yang dapat terdeteksi dengan tingkat keyakinan yang tinggi. Penentuan batas deteksi suatu metode berbeda-beda tergantung pada metode Analisis itu menggunakan instrumen atau tidak. Pada analisis yang tidak menggunakan instrumen, batas tersebut ditentukan dengan mendeteksi analit dalam sampel pada pengenceran bertingkat. Pada analisis instrumen, batas deteksi dapat dihitung dengan mengukur respon blangko beberapa kali lalu dihitung simpangan baku / standard deviation (SD) respon blangko.
• Limit Kuantitasi (Limit of Quantitation, LOQ)
Limit Kuantitasi (Limit of Quantitation, LOQ) adalah konsentrasi analit terendah dalam contoh yang dapat ditentukan dengan presisi dan akurasi yang dapat diterima pada kondisi eksperimen yang ditentukan. Ada konvensi yang menyatakan bahwa LOQ = blanko contoh + 5 SD (atau 6 SD atau 10 SD).
• Ruggedness (Ketahanan Metode)
Ruggedness adalah ukuran bagi suatu metode Analisis dalam mempertahankan unjuk kerjanya dalam situasi dimana pengukuran kondisi analisis sempurna.
Thursday, November 12, 2009
Monday, November 9, 2009
METODE ANALISIS
Metode analisis merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi/tersedia di laboratorium yang akan melakukan analisis. Dalam prinsip Good Analytical Practices dinyatakan bahwa:
• Analisis harus dapat memenuhi persyaratan/kebutuhan yang ditentukan
• Menggunakan metode dan peralatan yang telah diuji untuk menjamin kesesuaian dengan persyaratan/tujuan penggunaannya (Fit for the Purpose).
• Menggunakan personil/analis yang kompeten (Qualified)
Jenis-jenis metode analisis:
1) Metode baku/standar yaitu: metode analisis yang dipublikasikan/diterbitkan oleh badan standar internasional atau nasional yang berwenang, seperti AOCS, ASTM, ISO,APHA , WHO dan lain lain.
2) Metode tidak baku/non standar, diantaranya:
• Metode yang dikembangkan laboratorium, yaitu metode baku yang dimodifikasi oleh laboratorium, seperti dalam hal penggunaan peralatan, penggunaan bahan kimia atau prosedur yang digunakan. Misalnya untuk efisiensi maka penggunaan bahan kimia ada yang diganti dengan bahan kimia lain yang lebih murah tetapi fungsinya sama.
• Metode baku yang digunakan diluar penggunaan utamanya atau diperluas penggunaannya dari rancangan semula. Misalnya SNI 2891-1992 ruang lingkupnya untuk makanan dan minuman tetapi digunakan juga untuk analisis pakan.
• Metode publikasi yaitu metode analisis yang dikembangkan oleh ilmuan atau enggineer secara individu dan dipublikasikan dalam jurnal ilmiah atau monografi atau metode yang dipublikasikan oleh pemasok bahan kimia, pemasok peralatan, atau badan lain yang tidak berwenang menerbitkan metode analisis.
• Metode in house yaitu metode yang dirancang dan dikembangkan sendiri oleh laboratorium untuk keperluannya.
• Metode tidak resmi yang dimodifikasi untuk keperluan analisis/analisis tertentu.
Pemilihan Metode Analisis
Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam memilih metode analisis diantaranya:
o Mengidentifikasi standar yang tepat, bahan acuan, metode dan prosedur analisis yang dapat digunakan.
o Memperkirakan persyaratan bahan-bahan dan tenaga/personil serta persyaratan keselamatan dan kesehatan kerja.
o Melakukan evaluasi metode standar dan prosedur terhadap syarat analisis.
o Memilih metode analisis yang tepat dan konsisten sesuai dengan syarat analisis dan sumber daya yang ada.
Dalam memilih metode analisis perlu dipertimbangkan:
• Kecocokan/kesesuaian metode
• Kehandalan/ketangguhan
• Kepekaan
• Kecepatan/kemudahan
• Kepraktisan / fleksibel
• Keamanan
Cara menentukan metode analisis yang akan digunakan:
• Menetapkan tujuan
• Jenis metode
• Kemungkinan penggunaan metode
• Macam atribut metode yang digunakan
• Pemilihan metode alternatif
Faktor lain yang menjadi pertimbangan dalam memilih metode analisis adalah:
• Apakah analisis dilakukan untuk 1 sampel, jarang atau sering dengan contoh yang sama.
• Pereaksi apa saja yang harus tersedia
• Berapa lama waktu yang diperlukan
• Apa jenis matriks sampel yang dianalisis
• Berapa tingkat ketelitian yang diharapkan
• Apa ada zat pengganggu
• Apa ada badan khusus atau persyaratan peraturan, batas tindakan, atau batas pelaporan
• Apakah diperlukan prosedur yang mampu menseleksi,mendeteksi, dan identifikasi untuk campuran
• Berapa biaya yang harus dibayar pelanggan.
Jika menggunakan metode yang dikembangkan sendiri harus:
• Merupakan kegiatan yang direncanakan
• Ditugaskan kepada personil yang memenuhi persyaratan
• Dilengkapi dengan sumber daya laboratorium yang memadai.
Apabila menggunakan metode non standar, maka harus :
• Mendapat persetujuan pemilik sampel
• Memenuhi spesifikasi yang dipersyaratkan oleh pemilik sampel
• Sesuai dengan tujuan analisis.
• Analisis harus dapat memenuhi persyaratan/kebutuhan yang ditentukan
• Menggunakan metode dan peralatan yang telah diuji untuk menjamin kesesuaian dengan persyaratan/tujuan penggunaannya (Fit for the Purpose).
• Menggunakan personil/analis yang kompeten (Qualified)
Jenis-jenis metode analisis:
1) Metode baku/standar yaitu: metode analisis yang dipublikasikan/diterbitkan oleh badan standar internasional atau nasional yang berwenang, seperti AOCS, ASTM, ISO,APHA , WHO dan lain lain.
2) Metode tidak baku/non standar, diantaranya:
• Metode yang dikembangkan laboratorium, yaitu metode baku yang dimodifikasi oleh laboratorium, seperti dalam hal penggunaan peralatan, penggunaan bahan kimia atau prosedur yang digunakan. Misalnya untuk efisiensi maka penggunaan bahan kimia ada yang diganti dengan bahan kimia lain yang lebih murah tetapi fungsinya sama.
• Metode baku yang digunakan diluar penggunaan utamanya atau diperluas penggunaannya dari rancangan semula. Misalnya SNI 2891-1992 ruang lingkupnya untuk makanan dan minuman tetapi digunakan juga untuk analisis pakan.
• Metode publikasi yaitu metode analisis yang dikembangkan oleh ilmuan atau enggineer secara individu dan dipublikasikan dalam jurnal ilmiah atau monografi atau metode yang dipublikasikan oleh pemasok bahan kimia, pemasok peralatan, atau badan lain yang tidak berwenang menerbitkan metode analisis.
• Metode in house yaitu metode yang dirancang dan dikembangkan sendiri oleh laboratorium untuk keperluannya.
• Metode tidak resmi yang dimodifikasi untuk keperluan analisis/analisis tertentu.
Pemilihan Metode Analisis
Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam memilih metode analisis diantaranya:
o Mengidentifikasi standar yang tepat, bahan acuan, metode dan prosedur analisis yang dapat digunakan.
o Memperkirakan persyaratan bahan-bahan dan tenaga/personil serta persyaratan keselamatan dan kesehatan kerja.
o Melakukan evaluasi metode standar dan prosedur terhadap syarat analisis.
o Memilih metode analisis yang tepat dan konsisten sesuai dengan syarat analisis dan sumber daya yang ada.
Dalam memilih metode analisis perlu dipertimbangkan:
• Kecocokan/kesesuaian metode
• Kehandalan/ketangguhan
• Kepekaan
• Kecepatan/kemudahan
• Kepraktisan / fleksibel
• Keamanan
Cara menentukan metode analisis yang akan digunakan:
• Menetapkan tujuan
• Jenis metode
• Kemungkinan penggunaan metode
• Macam atribut metode yang digunakan
• Pemilihan metode alternatif
Faktor lain yang menjadi pertimbangan dalam memilih metode analisis adalah:
• Apakah analisis dilakukan untuk 1 sampel, jarang atau sering dengan contoh yang sama.
• Pereaksi apa saja yang harus tersedia
• Berapa lama waktu yang diperlukan
• Apa jenis matriks sampel yang dianalisis
• Berapa tingkat ketelitian yang diharapkan
• Apa ada zat pengganggu
• Apa ada badan khusus atau persyaratan peraturan, batas tindakan, atau batas pelaporan
• Apakah diperlukan prosedur yang mampu menseleksi,mendeteksi, dan identifikasi untuk campuran
• Berapa biaya yang harus dibayar pelanggan.
Jika menggunakan metode yang dikembangkan sendiri harus
• Merupakan kegiatan yang direncanakan
• Ditugaskan kepada personil yang memenuhi persyaratan
• Dilengkapi dengan sumber daya laboratorium yang memadai.
Apabila menggunakan metode non standar, maka harus :
• Mendapat persetujuan pemilik sampel
• Memenuhi spesifikasi yang dipersyaratkan oleh pemilik sampel
• Sesuai dengan tujuan analisis.
KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA (K3)
Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) adalah suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmani maupun rohaniah tenaga kerja (laboran/analis) pada khususnya dan manusia pada umumnya, hasil karya dan budayanya menuju masyarakat adil dan makmur. Secara keilmuan K3 merupakan ilmu pengetahuan dan penerapannya dalam usaha mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja.
• Tujuan
Setiap tenaga kerja/laboran dan orang lainnya yang berada di laboratorium mendapat perlindungan atas keselamatannya.
Setiap bahan kimia atau peralatan dapat dipakai, dipergunakan secara aman dan efisien.
Proses pengujian berjalan lancar.
Kondisi tersebut di atas dapat dicapai antara lain bila kecelakaan termasuk kebakaran, peledakan dan penyakit akibat kerja dapat dicegah dan ditanggulangi
•Hakikat higiene laboratorium dan kesehatan kerja adalah dua hal :
1). Sebagai alat untuk mencapai derajat kesehatan laboran/analis yang setinggi-tingginya, dengan maksud untuk kesejahteraan laboran.
2). Sebagai alat untuk meningkatkan analisis, yang berlandaskan kepada meningginya effisiensi dan daya produktivitas faktor manusia dalam analisis atau pengujian.
• Kondisi-Kondisi Kesehatan Yang Menyebabkan Rendahnya Produktivitas Kerja
1. Penyakit Umum
2. Penyakit Akibat Kerja
3. Kondisi Gizi
4. Lingkungan Kerja
5. Beban Kerja
• Terdapat 5 (lima) faktor penyebab penyakit akibat kerja
– Golongan fisik (keadaan suhu, kelembaban, suara kebisingan, radiasi, tekanan udara, penerangan, getaran dan gerak udara yang memberikan suhu efektif diluar kenikmatan kerja.
– Golongan kimia
– Golongan biologi
– Golongan fisiologi/ergonomi
– Golongan Psikologi
• Sanitasi Ruang Dan Peralatan Laboratorium
- Kondisi lantai secara umum harus bersih, kedap air, tidak licin, rata sehingga mudah dibersihkan dan tidak ada genangan air.
- Dinding tembok, jendela, langit-langit, kerangka bangunan, perpipaan, lampu-lampu dan benda lain yang berada di sekitar ruang pengujian harus dalam kondisi bersih.
- Kondisi umum bangunan harus memperhatikan aspek pencahayaan dan ventilasi yang baik. Ventilasi harus tersedia dengan cukup dan berfungsi dengan baik. Pencahayaan atau penerangan hendaknya tersebar secara merata dan cukup di semua ruangan, namun hendaknya diatur sedemikian rupa sehingga tidak menyilaukan
- Semua peralatan yang digunakan untuk pengujian harus selalu diperhatikan kebersihannya, dan juga penanganannya harus hati-hati karena kebanyakan peralatan laboratorium mudah pecah.
- Setelah penggunaan alat gelas dan non gelas selesai atau pekerjaan telah selesai semua peralatan tersebut dibersihkan dan ruangan yang digunakan harus dibersihkan dengan bahan saniter. Saniter adalah senyawa kimia yang dapat membantu membunuh bakteri dan mikroba. Air yang digunakan dalam pencucian alat hendaknya air yang bersih yang memenuhi persyaratan sanitasi, sehingga mencegah kontaminasi. Air bersih mempunyai ciri-ciri antara lain tidak berasa, tidak berwarna, dan tidak berbau
• Pengendalian Ruang Penyimpanan Bahan Kimia
- Ruang penyimpanan bahan kimia di laboratorium harus dikendalikan sehingga temperatur, kelembaban, dan sirkulasi udara sesuai dengan yang diharapkan, Jika temperatur dalam ruang penyimpanan bahan kimia tersebut tingga dan terasa pengap, maka exhaust fan (alat sejenis kipas angin) dihidupkan dan ventilasi atau pintu dibuka agar terjadi sirkulasi udara, sehingga dapat menurunkan temperatur dan kelembaban.
- Pada saat akan mengambil bahan kimia harus memakai alat keselamatan kerja. Sebelum masuk ruang penyimpanan bahan kimia, harus memeriksa suhu dan kelembaban ruangan apakah sesuai dengan persyaratan, baru melakukan pengambilan atau penempatan bahan kimia
• Pengaruh Bahan Kimia Terhadap Kesehatan
- Iritasi, yaitu terjadinya luka bakar setempat akibat kontak bahan kimia dengan bagian tubuh.
- Korosif kerusakan jaringan.
- Timbulnya alergi nampak sebagian bintik-bintik merah kecil atau gelembung berisi cairan atau gangguan pernafasan (tersumbat dan pendek-pendek)
- Pernafasan terganggu, seperti sulit bernafas sehingga terasa tercekik atau aspiksian karena kekurangan oksigen akibat diikat olah gas thinner seperti : nitrogen dan karbon dioksida.
- Timbulnya keracunan sistemik, yaitu bahan kimia yang dapat mempengaruhi bagian-bagian tubuh seperti merusak hati, ginjal, susunan syaraf dan lain-lain.
- Kanker, akibat paparan bahan kimia sehingga merangsang pertumbuhan sel-sel yang tidak terkendali dalam bentuk tumor ganas.
- Kerusakan atau kelainan janin yang ditandai oleh kelahiran dalam keadaan cacat atau kemandulan.
- Phemokoniosis, yaitu timbunan debu dalam paru-paru sehingga kemampuan paru-paru untuk menyerap oksigen menjadi kurang akibatnya penderita mengalami nafas pendek.
• Pembuangan Limbah
- Saluran pembuangan limbah bahan kimia dalam bentuk cair harus dikonstruksi dengan baik sehingga proses pembuangan limbah cair tidak terhambat.
- Tempat penampungan hendaknya dibuat, jangan langsung dibuang ketempat umum karena akan mengganggu dan mencemari lingkungan umum.
- Jika produksi sampah/limbah cair ternyata cukup tinggi, atau telah mengakibatkan ganggguan pencemaran adalah indikasi awal bahwa masalah pencemaran di lingkungan telah terjadi, maka disarankan untuk berkonsultasi dengan badan pengelolaan limbah
• Fasilitas Penggudangan
- Ruangan, dinding, bangunan dan pekarangan bangunan harus selalu bersih, bebas sampah dan kotoran.
- Barang barang yang disimpan dalam gudang harus diatur dan disusun secara baik dan teratur, dengan menyisakan jarak yang cukup, baik jarak antar tumpukan maupun dengan dinding tembok
- Barang yang telah rusak atau bahan baku yang telah busuk, hendaknya diambil dan dipisahkan dari barang-barang yang masih baik
- Untuk sampah yang kering dan padat perlu disediakan tempat pembuangan sampah padat yang cukup, baik kebersihannya maupun ukurannya sesuai dengan jumlah sampah diproduksi
• Pengertian Keselamatan Kerja
Keselamatan kerja adalah keselamatan yang berkaitan dengan mesin, pesawat, alat kerja, bahan dan proses pengolahannya, landasan tempat kerja dan lingkungannya serta cara-cara melakukan pekerjaan
• Tujuan keselamatan kerja adalah
- Melindungi laboran/analis atau tenaga kerja lainnya atas hak keselamatannya dalam melakukan pekerjaan untuk kesejahteraan hidup dan meningkatkan produksi serta produktivitas .
- Menjamin keselamatan setiap orang lain yang berada di tempat kerja (laboratorium).
- Sumber produksi dipelihara dan dipergunakan secara aman dan efisien
• Keselamatan Kerja Dan Perlindungan Tenaga Kerja
Perlindungan tenaga kerja meliputi aspek-aspek yang cukup luas, yaitu perlindungan keselamatan, kesehatan, pemeliharaan moral kerja serta perlakuan yang sesuai dengan martabat manusia dan moral agama
• Keselamatan Kerja Dan Peningkatan Produksi/jasa Dan Produktivitas
- Dengan tingkat keselamatan kerja yang tinggi, kecelakaan-kecelakaan yang menjadi sebab sakit, cacat dan kematian dapat dikurangi atau ditekan sekecil-kecilnya, sehingga pembiayaan yang tidak perlu dapat dihindari.
- Tingkat keselamatan yang tinggi sejalan dengan pemeliharaan dan penggunaan peralatan kerja dan mesin yang produktif dan efisien dan bertalian dengan tingkat produksi dan produktivitas yang tinggi.
- Keselamatan kerja yang dilaksanakan sebaik-baiknya dengan partisipasi pengusaha dan buruh akan membawa iklim keamanan dan ketenagaan kerja, sehingga sangat membantu bagi hubungan buruh dan pengusaha yang merupakan landasan kuat bagi terciptanya kelancaran produksi
• Metoda Pencegahan Kecelakaan
1. Peraturan perundangan
2. Standarisasi
3. Pengawasan
4. Penelitian bersifat teknik yang meliputi sifat dan ciri bahan yang berbahaya, penyelidikan tentang pagar pengaman, Riset medis
5. Penelitian psikologis
6. Penelitian syarat statistik
7. Pendidikan yang menyangkut pendidikan keselamatan dalam kurikulum teknik
8. Latihan-latihan
9. Penggairahan
10. Asuransi
11. Usaha keselamatan pada tingkat perusahaan
• Penyebab Terjadinya Kecelakaan Di Laboratorium
1. Kekurangan dalam Alat Pelindung Diri
2. Kekurangan dalam Ventilasi
3. Masalah Kebersihan
4. Bahaya Listrik
5. Kurangnya Pengetahuan Tentang Bahan Berbahaya
6. Masalah Penggudangan Bahan Kimia
7. Informasi dan Komunikasi
8. Prosedur dan Peralatan Keadaan Darurat
9. Tanggung Jawab Pekerja yang Rendah
10. Tanggung Jawab Manajemen yang Rendah
• Pencegahan dan penanggulangan Keadaan Darurat di Laboratorium
1. Menggunakan Akal Sehat
2. Kacamata Pengaman
3. Bahan Kimia di Mata
4. Asam dan Basa
5. Luka karena Bahan Kimia
6. Luka Bakar
7. Tergores atau Teriris
8. Menghirup Bahan Beracun
9. Menghindari Kebakaran
10. Memadamkan Api
11. Memadamkan Api yang Membakar Pakaian
12. Menangani Pelarut
• Tujuan
Setiap tenaga kerja/laboran dan orang lainnya yang berada di laboratorium mendapat perlindungan atas keselamatannya.
Setiap bahan kimia atau peralatan dapat dipakai, dipergunakan secara aman dan efisien.
Proses pengujian berjalan lancar.
Kondisi tersebut di atas dapat dicapai antara lain bila kecelakaan termasuk kebakaran, peledakan dan penyakit akibat kerja dapat dicegah dan ditanggulangi
•Hakikat higiene laboratorium dan kesehatan kerja adalah dua hal :
1). Sebagai alat untuk mencapai derajat kesehatan laboran/analis yang setinggi-tingginya, dengan maksud untuk kesejahteraan laboran.
2). Sebagai alat untuk meningkatkan analisis, yang berlandaskan kepada meningginya effisiensi dan daya produktivitas faktor manusia dalam analisis atau pengujian.
• Kondisi-Kondisi Kesehatan Yang Menyebabkan Rendahnya Produktivitas Kerja
1. Penyakit Umum
2. Penyakit Akibat Kerja
3. Kondisi Gizi
4. Lingkungan Kerja
5. Beban Kerja
• Terdapat 5 (lima) faktor penyebab penyakit akibat kerja
– Golongan fisik (keadaan suhu, kelembaban, suara kebisingan, radiasi, tekanan udara, penerangan, getaran dan gerak udara yang memberikan suhu efektif diluar kenikmatan kerja.
– Golongan kimia
– Golongan biologi
– Golongan fisiologi/ergonomi
– Golongan Psikologi
• Sanitasi Ruang Dan Peralatan Laboratorium
- Kondisi lantai secara umum harus bersih, kedap air, tidak licin, rata sehingga mudah dibersihkan dan tidak ada genangan air.
- Dinding tembok, jendela, langit-langit, kerangka bangunan, perpipaan, lampu-lampu dan benda lain yang berada di sekitar ruang pengujian harus dalam kondisi bersih.
- Kondisi umum bangunan harus memperhatikan aspek pencahayaan dan ventilasi yang baik. Ventilasi harus tersedia dengan cukup dan berfungsi dengan baik. Pencahayaan atau penerangan hendaknya tersebar secara merata dan cukup di semua ruangan, namun hendaknya diatur sedemikian rupa sehingga tidak menyilaukan
- Semua peralatan yang digunakan untuk pengujian harus selalu diperhatikan kebersihannya, dan juga penanganannya harus hati-hati karena kebanyakan peralatan laboratorium mudah pecah.
- Setelah penggunaan alat gelas dan non gelas selesai atau pekerjaan telah selesai semua peralatan tersebut dibersihkan dan ruangan yang digunakan harus dibersihkan dengan bahan saniter. Saniter adalah senyawa kimia yang dapat membantu membunuh bakteri dan mikroba. Air yang digunakan dalam pencucian alat hendaknya air yang bersih yang memenuhi persyaratan sanitasi, sehingga mencegah kontaminasi. Air bersih mempunyai ciri-ciri antara lain tidak berasa, tidak berwarna, dan tidak berbau
• Pengendalian Ruang Penyimpanan Bahan Kimia
- Ruang penyimpanan bahan kimia di laboratorium harus dikendalikan sehingga temperatur, kelembaban, dan sirkulasi udara sesuai dengan yang diharapkan, Jika temperatur dalam ruang penyimpanan bahan kimia tersebut tingga dan terasa pengap, maka exhaust fan (alat sejenis kipas angin) dihidupkan dan ventilasi atau pintu dibuka agar terjadi sirkulasi udara, sehingga dapat menurunkan temperatur dan kelembaban.
- Pada saat akan mengambil bahan kimia harus memakai alat keselamatan kerja. Sebelum masuk ruang penyimpanan bahan kimia, harus memeriksa suhu dan kelembaban ruangan apakah sesuai dengan persyaratan, baru melakukan pengambilan atau penempatan bahan kimia
• Pengaruh Bahan Kimia Terhadap Kesehatan
- Iritasi, yaitu terjadinya luka bakar setempat akibat kontak bahan kimia dengan bagian tubuh.
- Korosif kerusakan jaringan.
- Timbulnya alergi nampak sebagian bintik-bintik merah kecil atau gelembung berisi cairan atau gangguan pernafasan (tersumbat dan pendek-pendek)
- Pernafasan terganggu, seperti sulit bernafas sehingga terasa tercekik atau aspiksian karena kekurangan oksigen akibat diikat olah gas thinner seperti : nitrogen dan karbon dioksida.
- Timbulnya keracunan sistemik, yaitu bahan kimia yang dapat mempengaruhi bagian-bagian tubuh seperti merusak hati, ginjal, susunan syaraf dan lain-lain.
- Kanker, akibat paparan bahan kimia sehingga merangsang pertumbuhan sel-sel yang tidak terkendali dalam bentuk tumor ganas.
- Kerusakan atau kelainan janin yang ditandai oleh kelahiran dalam keadaan cacat atau kemandulan.
- Phemokoniosis, yaitu timbunan debu dalam paru-paru sehingga kemampuan paru-paru untuk menyerap oksigen menjadi kurang akibatnya penderita mengalami nafas pendek.
• Pembuangan Limbah
- Saluran pembuangan limbah bahan kimia dalam bentuk cair harus dikonstruksi dengan baik sehingga proses pembuangan limbah cair tidak terhambat.
- Tempat penampungan hendaknya dibuat, jangan langsung dibuang ketempat umum karena akan mengganggu dan mencemari lingkungan umum.
- Jika produksi sampah/limbah cair ternyata cukup tinggi, atau telah mengakibatkan ganggguan pencemaran adalah indikasi awal bahwa masalah pencemaran di lingkungan telah terjadi, maka disarankan untuk berkonsultasi dengan badan pengelolaan limbah
• Fasilitas Penggudangan
- Ruangan, dinding, bangunan dan pekarangan bangunan harus selalu bersih, bebas sampah dan kotoran.
- Barang barang yang disimpan dalam gudang harus diatur dan disusun secara baik dan teratur, dengan menyisakan jarak yang cukup, baik jarak antar tumpukan maupun dengan dinding tembok
- Barang yang telah rusak atau bahan baku yang telah busuk, hendaknya diambil dan dipisahkan dari barang-barang yang masih baik
- Untuk sampah yang kering dan padat perlu disediakan tempat pembuangan sampah padat yang cukup, baik kebersihannya maupun ukurannya sesuai dengan jumlah sampah diproduksi
• Pengertian Keselamatan Kerja
Keselamatan kerja adalah keselamatan yang berkaitan dengan mesin, pesawat, alat kerja, bahan dan proses pengolahannya, landasan tempat kerja dan lingkungannya serta cara-cara melakukan pekerjaan
• Tujuan keselamatan kerja adalah
- Melindungi laboran/analis atau tenaga kerja lainnya atas hak keselamatannya dalam melakukan pekerjaan untuk kesejahteraan hidup dan meningkatkan produksi serta produktivitas .
- Menjamin keselamatan setiap orang lain yang berada di tempat kerja (laboratorium).
- Sumber produksi dipelihara dan dipergunakan secara aman dan efisien
• Keselamatan Kerja Dan Perlindungan Tenaga Kerja
Perlindungan tenaga kerja meliputi aspek-aspek yang cukup luas, yaitu perlindungan keselamatan, kesehatan, pemeliharaan moral kerja serta perlakuan yang sesuai dengan martabat manusia dan moral agama
• Keselamatan Kerja Dan Peningkatan Produksi/jasa Dan Produktivitas
- Dengan tingkat keselamatan kerja yang tinggi, kecelakaan-kecelakaan yang menjadi sebab sakit, cacat dan kematian dapat dikurangi atau ditekan sekecil-kecilnya, sehingga pembiayaan yang tidak perlu dapat dihindari.
- Tingkat keselamatan yang tinggi sejalan dengan pemeliharaan dan penggunaan peralatan kerja dan mesin yang produktif dan efisien dan bertalian dengan tingkat produksi dan produktivitas yang tinggi.
- Keselamatan kerja yang dilaksanakan sebaik-baiknya dengan partisipasi pengusaha dan buruh akan membawa iklim keamanan dan ketenagaan kerja, sehingga sangat membantu bagi hubungan buruh dan pengusaha yang merupakan landasan kuat bagi terciptanya kelancaran produksi
• Metoda Pencegahan Kecelakaan
1. Peraturan perundangan
2. Standarisasi
3. Pengawasan
4. Penelitian bersifat teknik yang meliputi sifat dan ciri bahan yang berbahaya, penyelidikan tentang pagar pengaman, Riset medis
5. Penelitian psikologis
6. Penelitian syarat statistik
7. Pendidikan yang menyangkut pendidikan keselamatan dalam kurikulum teknik
8. Latihan-latihan
9. Penggairahan
10. Asuransi
11. Usaha keselamatan pada tingkat perusahaan
• Penyebab Terjadinya Kecelakaan Di Laboratorium
1. Kekurangan dalam Alat Pelindung Diri
2. Kekurangan dalam Ventilasi
3. Masalah Kebersihan
4. Bahaya Listrik
5. Kurangnya Pengetahuan Tentang Bahan Berbahaya
6. Masalah Penggudangan Bahan Kimia
7. Informasi dan Komunikasi
8. Prosedur dan Peralatan Keadaan Darurat
9. Tanggung Jawab Pekerja yang Rendah
10. Tanggung Jawab Manajemen yang Rendah
• Pencegahan dan penanggulangan Keadaan Darurat di Laboratorium
1. Menggunakan Akal Sehat
2. Kacamata Pengaman
3. Bahan Kimia di Mata
4. Asam dan Basa
5. Luka karena Bahan Kimia
6. Luka Bakar
7. Tergores atau Teriris
8. Menghirup Bahan Beracun
9. Menghindari Kebakaran
10. Memadamkan Api
11. Memadamkan Api yang Membakar Pakaian
12. Menangani Pelarut
Saturday, November 7, 2009
Seberapa banyak arsenik yang anda minum?
Minuman-minuman khas Jepang yang berbahan baku beras telah menjadi bagian penting dalam diet sadar-kesehatan di Barat, seperti diet vegetarian dan diet makrobiotik. Akan tetapi, kadar arsenik anorganik toksik yang terkandung dalam jenis-jenis minuman ini sebetulnya dapat menimbulkan kekhawatiran kata Antonio Signes-Pastor di De Montfort University, Leicester, Inggris.
Kadar arsenik yang tinggi baru-baru ini telah ditemukan dalam makanan yang berbahan baku beras, papar Signes-Pastor. Sekarang, dia dan rekan-rekannya telah menemukan bahwa minuman seperti misos, sirup, dan amazake mengandung kadar arsenik yang juga signifikan. “Produk-produk asal beras yang kami teliti dikonsumsi oleh jutaan orang di Jepang secara reguler, dan semakin menjadi bagian penting dalam diet konsumen sadar-kesehatan di negara-negara Barat, papar Signes-Pastor. Akan tetapi, memasukkan tipe-tipe minuman ini dalam daftar diet bisa menambah sebanyak 23% kadar toleransi harian arsenik, kata dia.
“Walaupun secara tersendiri kadar ini kelihatannya tidak terlalu mengkhawatirkan, namun bagi orang yang sebelumnya telah mendapatkan kadar arsenik yang tinggi dari beras dan produk-produk berbasis rumput-laut kadar ini bisa berarti telah melebihi kadar toleransi harian maksimum,” papar David Polya, yang meneliti efek arsenik dalam air tanah di University of Manchester, UK.
Signes-Pastor menjelaskan bahwa produk-produk serupa yang berasal dari jelai (barley) atau millet mengandung kadar arsenik yang lebih rendah dan bisa digunakank sebagai alternatif bagi minuman-minuman yang berbahan baku beras. Ini khususnya penting bagi orang-orang yang sebelumnya telah memakan banyak produk beras dan rumput laut, tambahnya.
Polya menambahkan bahwa penelitian ini memberikan implikasi yang jelas bahwa regulasi untuk arsenik anorganik dalam bahan pangan dan minuman non-air harus diuji ulang. Dia menganjurkan bahwa penyusunan peraturan yang lebih konsisten untuk arsenik pada bahan pangan dan minuman non-air bisa menghasilkan pengurangan kejadian penyakit yang terkait arsenik seperti berbagai penyakit kanker.”
Kadar arsenik yang tinggi baru-baru ini telah ditemukan dalam makanan yang berbahan baku beras, papar Signes-Pastor. Sekarang, dia dan rekan-rekannya telah menemukan bahwa minuman seperti misos, sirup, dan amazake mengandung kadar arsenik yang juga signifikan. “Produk-produk asal beras yang kami teliti dikonsumsi oleh jutaan orang di Jepang secara reguler, dan semakin menjadi bagian penting dalam diet konsumen sadar-kesehatan di negara-negara Barat, papar Signes-Pastor. Akan tetapi, memasukkan tipe-tipe minuman ini dalam daftar diet bisa menambah sebanyak 23% kadar toleransi harian arsenik, kata dia.
“Walaupun secara tersendiri kadar ini kelihatannya tidak terlalu mengkhawatirkan, namun bagi orang yang sebelumnya telah mendapatkan kadar arsenik yang tinggi dari beras dan produk-produk berbasis rumput-laut kadar ini bisa berarti telah melebihi kadar toleransi harian maksimum,” papar David Polya, yang meneliti efek arsenik dalam air tanah di University of Manchester, UK.
Signes-Pastor menjelaskan bahwa produk-produk serupa yang berasal dari jelai (barley) atau millet mengandung kadar arsenik yang lebih rendah dan bisa digunakank sebagai alternatif bagi minuman-minuman yang berbahan baku beras. Ini khususnya penting bagi orang-orang yang sebelumnya telah memakan banyak produk beras dan rumput laut, tambahnya.
Polya menambahkan bahwa penelitian ini memberikan implikasi yang jelas bahwa regulasi untuk arsenik anorganik dalam bahan pangan dan minuman non-air harus diuji ulang. Dia menganjurkan bahwa penyusunan peraturan yang lebih konsisten untuk arsenik pada bahan pangan dan minuman non-air bisa menghasilkan pengurangan kejadian penyakit yang terkait arsenik seperti berbagai penyakit kanker.”
Aspek Mutu dalam Pembuatan Yoghurt
Yoghurt adalah susu asam yang merupakan hasil fermentasi susu oleh bakteri asam laktat (BAL). Yoghurt biasanya dibuat dengan menggunakan dua jenis BAL yaitu Streptococcus thermophilus dan Lactobacillus bulgaricus sebagai starter. Selain itu, ada juga yoghurt yang ditambahkan dengan BAL yang bersifat probiotik, misalnya Lactobacillus acidophillus, Lactobacillus casei, dan Bifidobacterium. Bakteri probiotik bisa hidup dan melakukan proses metabolisme didalam usus, sedangkan S. thermophilus dan L. bulgaricus tidak bisa hidup dalam saluran pencernaan.
Dalam pembuatan yoghurt tedapat beberapa aspek mutu yang perlu diperhatikan, yaitu :
1. Susu sebagai bahan baku
Bahan baku dalam pembuatan yoghurt adalah susu. Bahan baku susu untuk yoghurt dapat digunakan susu penuh, susu skim, susu rendah lemak atau dengan penambahan lemak. Susu murni bagus untuk bahan baku, susu bubuk tanpa
pengawet juga bisa digunakan sebagai bahan baku. Bahan baku susu ini harus merupakan susu yang sesuai dengan mutu. Bahan baku harus memenuhi persyaratan berikut: jumlah bakteri rendah, tidak mengandung antibiotik. tidak mengandung bahan-bahan sanitiser, bukan kolostrum, tidak terdapat penyimpangan bau dan tidak ada kontaminasi bakteri ophage.
Susu sebenarnya merupakan bahan pangan yang tergolong steril ketika di sekresi di dalam ambing, namun dalam perjalanan menuju puting, susu dapat terkontaminasi berbagai macam mikroorganisme. Beberapa mikroorganisme yang tergolong pathogen dalam susu sehingga perlu adanya perhatian dan perlakuan khusus yaitu
• Mikroorganisme Perusak pada Susu
Kualitas mikrobial dalam susu segar sangat penting bagi penilaian dan produksi produk susu yang berkualitas. Susu dapat disebut telah rusak apabila terdapat gangguan dalam tekstur, warna, bau dan rasa pada kondisi dimana susu tersebut sudah tidak patut lagi dikonsumsi oleh manusia. Kerusakan yang disebabkan oleh mikroorganisme dalam makanan sering melibatkan degradasi dari zat zat nutrisi seperti protein, karbohidrat dan lemak, baik oleh mikroorganisme itu sendiri maupun enzim yang diproduksinya.
Secara umum pada susu mikroorganisme yang berperan dalam hal ini adalah organisme psikotrof. Meskipun kebanyakan dari kelompok ini dapat dihancurkan pada temperatur pasteurisasi, sayangnya, beberapa jenis seperti Pseudomonas fluorescens dan Pseudomonas fragi dapat memproduksi proteolitik dan lipolitik enzim yang stabil pada suhu tinggi dan dapat menyebabkan kerusakan.
Beberapa spesies dan keturunan dari Bacillus, Clostridium, Cornebacterium, Arthrobacter, Lactobacillus, Microbacterium, Micrococcus , dan Streptococcus dapat bertahan pada temperatur pasteurisasi dan sekaligus mampu tumbuh pada suhu dalam ruang pendingin yang pada akhirnya dapat menyebabkan masalah kerusakan dan pembusukan pada bahan makanan terutama susu.
• Mikroorganisme Patogen pada Susu
Produksi susu yang higienis seperti penanganan yang cepat dan tepat, penggunaan alat produksi dan alat penyimpanan serta teknik-teknik pasteurisasi telah menurunkan ancaman penyebaran penyakit melalui susu seperti tuberkulosis (TBC), brucellosis dan lain sebagainya. Walaupun masih menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan, terbukti sudah ada beberapa kasus penyakit yang berasal dari mengkonsumsi susu segar, atau produk susu sapi yang dibuat dari susu yang tidak di pasteurisasi dengan benar atau kurang baik dalam penanganan sepanjang proses produksinya. Beberapa bakteri patogen dalam susu segar dan produk susu yang masih menjadi perhatian saat ini antara lain:
- Bacillus cereus
- Listeria monocytogenes
- Yersinia enterocolitica
- Salmonella spp.
- Escherichia coli O157:H7
- Campylobacter jejuni
Perlu diungkapkan juga disini bahwa beberapa jenis jamur, kebanyakan dari spesies Aspergillus, Fusarium, dan Penicillium dapat tumbuh dalam media susu dan produk susu lainnya. Apabila kondisinya memungkinkan, organisme ini dapat memproduksi zat mycotoxin yang dapat berbahaya bagi kesehatan.
Berdasarkan hal tersebut maka diperlukan suatu penanganan bahan baku susu sebelum diolah lebih lanjut menjadi produk olahan susu seperti yoghurt. Apabila aspek mutu susu ini tidak dieprhatikan maka akan mengakibatkan turunnya mutu pada produk (yoghurt), kebusuka produk pangan (rusak), terlewatnya batas standar jumlah mikroba yang menjadikan lewat mutu (off grade), bahkan timbulnya keracunan makanan atau penyakit darimakanan.
2. Kultur starter / inokulum
Kultur starter yoghurt atau biasa disebut starter atau kultur saja adalah sekumpulan mikroorganisme yang digunakan dalam produksi biakan atau budidaya dalam pengolahan susu seperti yoghurt atau keju. Kultur starter yang dibiakan oleh manusia (sekarang umumnya dilakukan di laboratorium) dimulai ketika orang mulai memisahkan gumpalan whey/ dadih atau krim yang didapat dari proses fermentasi sebelumnya yang berhasil. Dan menggunakannya sebagai inokulan atau starter untuk pembuatan produk selanjutnya. Dengan menggunakan kultur starter ini dapat dihasilkan karakteristik tertentu yang lebih mudah dikendalikan sehingga menghasilkan produk fermentasi yang diinginkan. Secara umum, fungsi utama dari kultur ini adalah untuk memproduksi asam laktat (lactic acid) dari gula yang ada dalam susu (laktosa). Selain itu, kultur dapat digunakan juga untuk mengatur:
• rasa, aroma dan tingkat produksi alkohol
• aktivitas proteolitik dan lipolitik
• penghambat organisme yang tidak diinginkan
Secara umum ada dua kategori kultur starter laktat :
a. Kultur sederhana. Terdiri dari satu jenis organisme, atau lebih dari satu yang masing masing jumlahnya diketahui.
b. kultur campuran. Lebih dari satu jenis organisme, yang masing masing menghasilkan karakter yang spesifik.
Dalam pembuatan yoghurt, starter/inokulum yang digunakan sangat berpengaruh terhadap produk yang dihasilkan antara lain pembentukan asam dan zat-zat cita rasa serta karakteristik-karakteristik lainnya. Bibit atau starter harus yang masih segar jika bibit sudah lemah yoghurt tidak akan jadi. Untuk memahami betul prinsip-prinsip pembuatan yoghurt perlu dipahami tahap-tahap proses dan pengaruhnya terhadap kualitas produk yang dihasilkan.
Kultur yoghurt mempunyai peran penting dalam proses asidifikasi dan fermentasi susu. Kualitas hasil akhir yoghurt sangat dipengaruhi oleh komposisi dan preparasi kultur starter. Komposisi starter harus terdiri dari bakteri tennofilik dan mesofilik. Yang umum digunakan adalah Lactobacillus bulgaricus dengan suhu optimum 42°-45°C dan Streptococcus thermophilus dengan suhu optimum 38°- 42°C. Perbandingan jumlah starter biasanya 1:1 sampai 2:3. Selama pertumbuhan terjadi simbiosis antara kedua jenis bakteri. Streptococcus thermophilus akan berkembang lebih cepat mengawali pembentukan asam laktat melalui fermentasi laktosa. Pertumbuhan ini terus berlangsung sampai mencapai pH 5,5. Selain itu juga akan dihasilkan senyawa-senyawa volatil dan pelepasan oksigen. Kondisi ini memberikan lingkungan yang sangat baik untuk pertumbuhan Lactobacillus bulgaricus. Aktivitas enzim proteolitik dari Lactobacillus bulgaricurs menye-babkan terurainya protein susu, menghasilkan asam-asam amino dan peptide peptida yang akan menyetimulasi pertumbuhan Streptococcus thermophilus. Lactobacillus bulgaricus juga akan menguraikan lemak, menghasilkan asam-asam lemak yang memberikan flavor khas pada produk akhir yoghurt.
Dalam pembuatan yoghurt biasanya terdapat beberapa masalah yang ditimbulkan akibat dari penggunaan starter yang kurang memenuhi mutu. Misalnya dengan penggunaan starter yang sama secara terus menerus dapat mengubah rasio antara populasi Streptococcus thermophilus dan Lactobacillus bulgaricus sehingga akhirnya terjadi mutasi pada turunan ke 15 sampai 20. Maka sebaiknya dalam setiap pembuatan yoghurt digunakan starter yang baru pula.
Starter yoghurt dapat dibuat sendiri secara sederhana, dapat pula diperoleh dari perusahaan-perusahaan yang memproduksi starter yoghurt, bank starter atau lembaga-lembaga penelitian yang biasanya disebut dengan starter yoghurt murni. Pembiakan starter murni tersebut diatas, di perusahaan pembuatan yoghurt dalam kondisi aseptis dan menggunakan susu steril. Jadi sebaiknnya sterter murni inilah yang digunakan dalam pembuatan yoghurt untuk menghasilkan produk yoghurt yang sesuai dengan mutu.
3. Standardisasi Bahan Kering
Standarisasi bahan kering diperlukan untuk memperoleh struktur gel dan konsistensi yang dikehendaki. Penambahan susu skim 3-5% dapat meningkatkan nilai gizi yoghurt dan memperbaiki konsistensi. Penambahan bahan penstabil (misalnya gelatin 0,1-0,3% atau agar atau alginat) dapat meningkatkan konsistensi dan stabilitas produk. Penambahan sukrosa 4-11% dan buah segar dapat mengubah citarasa yoghurt sehingga lebih disukai terutama bagi orang yang kurang menyukai rasa asam. Penambahan buah dapat dilakukan sebelum atau sesudah pasteurisasi.
4. Deaerasi
Udara yang terdapat di dalam campuran bahan-bahan yoghurt selama proses pencampuran biasanya tidak dapat keluar dan dapat mempengaruhi kualitas hasil akhir yoghurt. Oleh karena itu harus dilakukan deaerasi dengan tekanan 0,7-0,8 bar pada suhu 70°-75°C. Deaerasi dapat meningkatkan viskositas dan stabilitas gel yoghurt, di samping juga menghilangkan senyawa-senyawa yang dapat menyebabkan timbulnya aroma dan flavor yang tidak dikehendaki.
5. Homogenisasi
Homogenisasi campuran bahan-bahan setelah pasteurisasi sangat diperlukan untuk mendapatkan campuran yang betul-betul homogen sehingga tidak dapat terjadi pemisahan cream atau wheying selama inkubasi dan penyimpanan. Juga untuk memperoleh konsistensi yang stabil. Homogenisasi juga dapat meningkatkan partikel-partikel kasein sehingga dapat memperbaiki konsistensi gel selama proses koagulasi.
6. Perlakuan Pemanasan (Pasteurisasi)
Pasteurisasi dilakukan pada suhu 85°C selama 30 menit atau 95°C selama 10 menit. Tujuan pasteurisasi adalah untuk membunuh mikroba kontaminan baik patogen maupun pembusuk yang terdapat dalam bahan baku sehingga dapat memberikan lingkungan yang steril dan kondusif untuk pertumbuhan kultur starter. Selain itu juga untuk denaturasi dan koagulasi protein whey sehingga dapat meningkatkan viskositas dan tekstur yoghurt.
7. Masa inkubasi
Setelah proses pemberian starter selesai maka proses selanjutnya adalah melakukan proses inkubasi. Saat proses inkubasi inilah merupakan proses yang sanagt penting karena dalam tahapan inilah terjadi proses fermentasi dalam susu oleh bakteri. Dalam Proses pembuatan yoghurt memerlukan suhu yang hangat. Tidak saja hangat tapi suhu ini perlu dijaga agar konstan, tidak naik atau turun terlalu ekstrim selama proses inkubasi berlangsung. Naik turunnya suhu dengan cukup ekstrim dapat mengakibatkan proses fermentasi terganggu dan yoghurt gagal terbentuk.
Proses fermentasi merupakan kunci keberhasilan dari produksi yoghurt karena karakteristik produk akhir terbentuk selama proses fermentasi berlangsung. Pada umumnya fermentasi dilakukan pada suhu 40°-45°C selama 2,5 - 3 jam. Namun suhu dan waktu fermentasi bisa berubah tergantung pada jenis bakteri pada kultur starter yang digunakan. Lama fermentasi dapat memakan waktu hingga 5-20 jam tergantung dari kekuatan starter. Pada proses fermentasi akan terjadi hidrolisis enzimatis laktosa menjadi glukosa dan galaktosa. Selanjutnya glukosa akan diuraikan melalui beberapa tahap dekomposisi sehingga menghasilkan asam laktat. Pada tahap ini belum terjadi perubahan struktur fisik yang nyata pada susu, disebut prefermentasi. Galaktosa tidak akan digunakan selama glukosa dan laktosa masih tersedia untuk fermentasi. Oleh karena itu pada produk yoghurt masih terdapat residu galaktosa dan laktosa. Setelah terjadi penurunan pH maka gel mulai terbentuk secara bertahap sampai mencapai titik isoelektrik pada pH 4,65. Proses ini disebut fermentasi utama. Pembentukan gel diikuti dengan perubahan viskositas. Pada tahap ini juga dihasilkan flavor.
Dalam proses fermentasi sering terjadi kegagalan antara lain disebabkan karena suhu inkubasi yang terlalau rendah. Suhu inkubasi yang rendah (suhu ruang) mengakibatkan laju sintesis asam yang lambat (lebih dari 18 jam) sedangkan inkubasi pada suhu optimum 40o-45oC hanya memerlukan 2.5-3 jam. Dampak negatif dari laju pembentukan asam yang lambat ini dapat berupa antara lain sineresis serum susu (whey) yang menyebabkan kualitas yoghurt tidak begitu baik dan kandungan asam laktat yang dihasilkan selama fase fermentasi tidak dapat dikendalikan. Oleh karena itu, diperlukan adanya pengendalian suhu yang tepat selama proses inkubasi. Selain suhu dan waktu inkubasi, perlu diperhatikan pula masalah kebersihan pada saat proses fermentasi.
8. Teknik penyimpanan
Pendinginan harus segera dilakukan setelah fermentasi supaya tidak terjadi asidifikasi lanjut sehingga produk dapat disimpan lebih lama. Produk yang telah jadi dan bagus, dapat digunakan sebagai starter pada pembuatan yoghurt selanjutnya. Diusahakan penurunan suhu menjadi l5°-20°C yang dapat tercapai dalam waktu 1-1,5 jam. Pada tahap ini masih tecjadi pembentukan flavor. Selanjuhlya yoghurt yang sudah jadi disimpan pada suhu 5°-6°C. Untuk yoghurt yang kita buat sendiri sebaiknya paling lama penyimpanannya selama 1 minggu. Pendinginan yoghurt pada kadar asam yang dikehendaki dapat dilakukan dengan cepat sehingga kualitas yoghurt yang dihasilkan lebih seragam.
Ada dua hal yang harus diperhatikan dalam penyimpanan yoghurt yaitu :
• Yoghurt tidak boleh terkena sinar matahari.
• Tidak boleh ditaruh dalam suhu ruangan, harus disimpan dalam suhu dingin/kulkas tetapi juga tidak boleh diletakkan dalam freezer. Yoghurt tidak boleh disimpan dalam freezer karena bahan dasar yoghurt yang berupa susu dapat pecah dan justru itu akan merusak yoghurt.
Selain beberapa aspek mutu penting yang perlu diperhatikan dalam pembuatan yoghurt terdapat pula beberapa hal yang tidak boleh diabaikan yaitu kebersihan. Kebersihan merupakan hal yang penting, sehingga sebaiknya semua alat yang digunakan direbus terlebih dahulu dalam air mendidih selama 5-10 menit. Apabila kebersihan tidak dijaga dapat mengakibatkan yoghurt tidak jadi, dengan ciri-ciri tidak berasam walaupun berbentuk solid, di permukaan solid ditumbuhi jamur yang berbentuk bintik-bintik hitam dan berbau asam yang sangat tajam.
Dalam pembuatan yoghurt tedapat beberapa aspek mutu yang perlu diperhatikan, yaitu :
1. Susu sebagai bahan baku
Bahan baku dalam pembuatan yoghurt adalah susu. Bahan baku susu untuk yoghurt dapat digunakan susu penuh, susu skim, susu rendah lemak atau dengan penambahan lemak. Susu murni bagus untuk bahan baku, susu bubuk tanpa
pengawet juga bisa digunakan sebagai bahan baku. Bahan baku susu ini harus merupakan susu yang sesuai dengan mutu. Bahan baku harus memenuhi persyaratan berikut: jumlah bakteri rendah, tidak mengandung antibiotik. tidak mengandung bahan-bahan sanitiser, bukan kolostrum, tidak terdapat penyimpangan bau dan tidak ada kontaminasi bakteri ophage.
Susu sebenarnya merupakan bahan pangan yang tergolong steril ketika di sekresi di dalam ambing, namun dalam perjalanan menuju puting, susu dapat terkontaminasi berbagai macam mikroorganisme. Beberapa mikroorganisme yang tergolong pathogen dalam susu sehingga perlu adanya perhatian dan perlakuan khusus yaitu
• Mikroorganisme Perusak pada Susu
Kualitas mikrobial dalam susu segar sangat penting bagi penilaian dan produksi produk susu yang berkualitas. Susu dapat disebut telah rusak apabila terdapat gangguan dalam tekstur, warna, bau dan rasa pada kondisi dimana susu tersebut sudah tidak patut lagi dikonsumsi oleh manusia. Kerusakan yang disebabkan oleh mikroorganisme dalam makanan sering melibatkan degradasi dari zat zat nutrisi seperti protein, karbohidrat dan lemak, baik oleh mikroorganisme itu sendiri maupun enzim yang diproduksinya.
Secara umum pada susu mikroorganisme yang berperan dalam hal ini adalah organisme psikotrof. Meskipun kebanyakan dari kelompok ini dapat dihancurkan pada temperatur pasteurisasi, sayangnya, beberapa jenis seperti Pseudomonas fluorescens dan Pseudomonas fragi dapat memproduksi proteolitik dan lipolitik enzim yang stabil pada suhu tinggi dan dapat menyebabkan kerusakan.
Beberapa spesies dan keturunan dari Bacillus, Clostridium, Cornebacterium, Arthrobacter, Lactobacillus, Microbacterium, Micrococcus , dan Streptococcus dapat bertahan pada temperatur pasteurisasi dan sekaligus mampu tumbuh pada suhu dalam ruang pendingin yang pada akhirnya dapat menyebabkan masalah kerusakan dan pembusukan pada bahan makanan terutama susu.
• Mikroorganisme Patogen pada Susu
Produksi susu yang higienis seperti penanganan yang cepat dan tepat, penggunaan alat produksi dan alat penyimpanan serta teknik-teknik pasteurisasi telah menurunkan ancaman penyebaran penyakit melalui susu seperti tuberkulosis (TBC), brucellosis dan lain sebagainya. Walaupun masih menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan, terbukti sudah ada beberapa kasus penyakit yang berasal dari mengkonsumsi susu segar, atau produk susu sapi yang dibuat dari susu yang tidak di pasteurisasi dengan benar atau kurang baik dalam penanganan sepanjang proses produksinya. Beberapa bakteri patogen dalam susu segar dan produk susu yang masih menjadi perhatian saat ini antara lain:
- Bacillus cereus
- Listeria monocytogenes
- Yersinia enterocolitica
- Salmonella spp.
- Escherichia coli O157:H7
- Campylobacter jejuni
Perlu diungkapkan juga disini bahwa beberapa jenis jamur, kebanyakan dari spesies Aspergillus, Fusarium, dan Penicillium dapat tumbuh dalam media susu dan produk susu lainnya. Apabila kondisinya memungkinkan, organisme ini dapat memproduksi zat mycotoxin yang dapat berbahaya bagi kesehatan.
Berdasarkan hal tersebut maka diperlukan suatu penanganan bahan baku susu sebelum diolah lebih lanjut menjadi produk olahan susu seperti yoghurt. Apabila aspek mutu susu ini tidak dieprhatikan maka akan mengakibatkan turunnya mutu pada produk (yoghurt), kebusuka produk pangan (rusak), terlewatnya batas standar jumlah mikroba yang menjadikan lewat mutu (off grade), bahkan timbulnya keracunan makanan atau penyakit darimakanan.
2. Kultur starter / inokulum
Kultur starter yoghurt atau biasa disebut starter atau kultur saja adalah sekumpulan mikroorganisme yang digunakan dalam produksi biakan atau budidaya dalam pengolahan susu seperti yoghurt atau keju. Kultur starter yang dibiakan oleh manusia (sekarang umumnya dilakukan di laboratorium) dimulai ketika orang mulai memisahkan gumpalan whey/ dadih atau krim yang didapat dari proses fermentasi sebelumnya yang berhasil. Dan menggunakannya sebagai inokulan atau starter untuk pembuatan produk selanjutnya. Dengan menggunakan kultur starter ini dapat dihasilkan karakteristik tertentu yang lebih mudah dikendalikan sehingga menghasilkan produk fermentasi yang diinginkan. Secara umum, fungsi utama dari kultur ini adalah untuk memproduksi asam laktat (lactic acid) dari gula yang ada dalam susu (laktosa). Selain itu, kultur dapat digunakan juga untuk mengatur:
• rasa, aroma dan tingkat produksi alkohol
• aktivitas proteolitik dan lipolitik
• penghambat organisme yang tidak diinginkan
Secara umum ada dua kategori kultur starter laktat :
a. Kultur sederhana. Terdiri dari satu jenis organisme, atau lebih dari satu yang masing masing jumlahnya diketahui.
b. kultur campuran. Lebih dari satu jenis organisme, yang masing masing menghasilkan karakter yang spesifik.
Dalam pembuatan yoghurt, starter/inokulum yang digunakan sangat berpengaruh terhadap produk yang dihasilkan antara lain pembentukan asam dan zat-zat cita rasa serta karakteristik-karakteristik lainnya. Bibit atau starter harus yang masih segar jika bibit sudah lemah yoghurt tidak akan jadi. Untuk memahami betul prinsip-prinsip pembuatan yoghurt perlu dipahami tahap-tahap proses dan pengaruhnya terhadap kualitas produk yang dihasilkan.
Kultur yoghurt mempunyai peran penting dalam proses asidifikasi dan fermentasi susu. Kualitas hasil akhir yoghurt sangat dipengaruhi oleh komposisi dan preparasi kultur starter. Komposisi starter harus terdiri dari bakteri tennofilik dan mesofilik. Yang umum digunakan adalah Lactobacillus bulgaricus dengan suhu optimum 42°-45°C dan Streptococcus thermophilus dengan suhu optimum 38°- 42°C. Perbandingan jumlah starter biasanya 1:1 sampai 2:3. Selama pertumbuhan terjadi simbiosis antara kedua jenis bakteri. Streptococcus thermophilus akan berkembang lebih cepat mengawali pembentukan asam laktat melalui fermentasi laktosa. Pertumbuhan ini terus berlangsung sampai mencapai pH 5,5. Selain itu juga akan dihasilkan senyawa-senyawa volatil dan pelepasan oksigen. Kondisi ini memberikan lingkungan yang sangat baik untuk pertumbuhan Lactobacillus bulgaricus. Aktivitas enzim proteolitik dari Lactobacillus bulgaricurs menye-babkan terurainya protein susu, menghasilkan asam-asam amino dan peptide peptida yang akan menyetimulasi pertumbuhan Streptococcus thermophilus. Lactobacillus bulgaricus juga akan menguraikan lemak, menghasilkan asam-asam lemak yang memberikan flavor khas pada produk akhir yoghurt.
Dalam pembuatan yoghurt biasanya terdapat beberapa masalah yang ditimbulkan akibat dari penggunaan starter yang kurang memenuhi mutu. Misalnya dengan penggunaan starter yang sama secara terus menerus dapat mengubah rasio antara populasi Streptococcus thermophilus dan Lactobacillus bulgaricus sehingga akhirnya terjadi mutasi pada turunan ke 15 sampai 20. Maka sebaiknya dalam setiap pembuatan yoghurt digunakan starter yang baru pula.
Starter yoghurt dapat dibuat sendiri secara sederhana, dapat pula diperoleh dari perusahaan-perusahaan yang memproduksi starter yoghurt, bank starter atau lembaga-lembaga penelitian yang biasanya disebut dengan starter yoghurt murni. Pembiakan starter murni tersebut diatas, di perusahaan pembuatan yoghurt dalam kondisi aseptis dan menggunakan susu steril. Jadi sebaiknnya sterter murni inilah yang digunakan dalam pembuatan yoghurt untuk menghasilkan produk yoghurt yang sesuai dengan mutu.
3. Standardisasi Bahan Kering
Standarisasi bahan kering diperlukan untuk memperoleh struktur gel dan konsistensi yang dikehendaki. Penambahan susu skim 3-5% dapat meningkatkan nilai gizi yoghurt dan memperbaiki konsistensi. Penambahan bahan penstabil (misalnya gelatin 0,1-0,3% atau agar atau alginat) dapat meningkatkan konsistensi dan stabilitas produk. Penambahan sukrosa 4-11% dan buah segar dapat mengubah citarasa yoghurt sehingga lebih disukai terutama bagi orang yang kurang menyukai rasa asam. Penambahan buah dapat dilakukan sebelum atau sesudah pasteurisasi.
4. Deaerasi
Udara yang terdapat di dalam campuran bahan-bahan yoghurt selama proses pencampuran biasanya tidak dapat keluar dan dapat mempengaruhi kualitas hasil akhir yoghurt. Oleh karena itu harus dilakukan deaerasi dengan tekanan 0,7-0,8 bar pada suhu 70°-75°C. Deaerasi dapat meningkatkan viskositas dan stabilitas gel yoghurt, di samping juga menghilangkan senyawa-senyawa yang dapat menyebabkan timbulnya aroma dan flavor yang tidak dikehendaki.
5. Homogenisasi
Homogenisasi campuran bahan-bahan setelah pasteurisasi sangat diperlukan untuk mendapatkan campuran yang betul-betul homogen sehingga tidak dapat terjadi pemisahan cream atau wheying selama inkubasi dan penyimpanan. Juga untuk memperoleh konsistensi yang stabil. Homogenisasi juga dapat meningkatkan partikel-partikel kasein sehingga dapat memperbaiki konsistensi gel selama proses koagulasi.
6. Perlakuan Pemanasan (Pasteurisasi)
Pasteurisasi dilakukan pada suhu 85°C selama 30 menit atau 95°C selama 10 menit. Tujuan pasteurisasi adalah untuk membunuh mikroba kontaminan baik patogen maupun pembusuk yang terdapat dalam bahan baku sehingga dapat memberikan lingkungan yang steril dan kondusif untuk pertumbuhan kultur starter. Selain itu juga untuk denaturasi dan koagulasi protein whey sehingga dapat meningkatkan viskositas dan tekstur yoghurt.
7. Masa inkubasi
Setelah proses pemberian starter selesai maka proses selanjutnya adalah melakukan proses inkubasi. Saat proses inkubasi inilah merupakan proses yang sanagt penting karena dalam tahapan inilah terjadi proses fermentasi dalam susu oleh bakteri. Dalam Proses pembuatan yoghurt memerlukan suhu yang hangat. Tidak saja hangat tapi suhu ini perlu dijaga agar konstan, tidak naik atau turun terlalu ekstrim selama proses inkubasi berlangsung. Naik turunnya suhu dengan cukup ekstrim dapat mengakibatkan proses fermentasi terganggu dan yoghurt gagal terbentuk.
Proses fermentasi merupakan kunci keberhasilan dari produksi yoghurt karena karakteristik produk akhir terbentuk selama proses fermentasi berlangsung. Pada umumnya fermentasi dilakukan pada suhu 40°-45°C selama 2,5 - 3 jam. Namun suhu dan waktu fermentasi bisa berubah tergantung pada jenis bakteri pada kultur starter yang digunakan. Lama fermentasi dapat memakan waktu hingga 5-20 jam tergantung dari kekuatan starter. Pada proses fermentasi akan terjadi hidrolisis enzimatis laktosa menjadi glukosa dan galaktosa. Selanjutnya glukosa akan diuraikan melalui beberapa tahap dekomposisi sehingga menghasilkan asam laktat. Pada tahap ini belum terjadi perubahan struktur fisik yang nyata pada susu, disebut prefermentasi. Galaktosa tidak akan digunakan selama glukosa dan laktosa masih tersedia untuk fermentasi. Oleh karena itu pada produk yoghurt masih terdapat residu galaktosa dan laktosa. Setelah terjadi penurunan pH maka gel mulai terbentuk secara bertahap sampai mencapai titik isoelektrik pada pH 4,65. Proses ini disebut fermentasi utama. Pembentukan gel diikuti dengan perubahan viskositas. Pada tahap ini juga dihasilkan flavor.
Dalam proses fermentasi sering terjadi kegagalan antara lain disebabkan karena suhu inkubasi yang terlalau rendah. Suhu inkubasi yang rendah (suhu ruang) mengakibatkan laju sintesis asam yang lambat (lebih dari 18 jam) sedangkan inkubasi pada suhu optimum 40o-45oC hanya memerlukan 2.5-3 jam. Dampak negatif dari laju pembentukan asam yang lambat ini dapat berupa antara lain sineresis serum susu (whey) yang menyebabkan kualitas yoghurt tidak begitu baik dan kandungan asam laktat yang dihasilkan selama fase fermentasi tidak dapat dikendalikan. Oleh karena itu, diperlukan adanya pengendalian suhu yang tepat selama proses inkubasi. Selain suhu dan waktu inkubasi, perlu diperhatikan pula masalah kebersihan pada saat proses fermentasi.
8. Teknik penyimpanan
Pendinginan harus segera dilakukan setelah fermentasi supaya tidak terjadi asidifikasi lanjut sehingga produk dapat disimpan lebih lama. Produk yang telah jadi dan bagus, dapat digunakan sebagai starter pada pembuatan yoghurt selanjutnya. Diusahakan penurunan suhu menjadi l5°-20°C yang dapat tercapai dalam waktu 1-1,5 jam. Pada tahap ini masih tecjadi pembentukan flavor. Selanjuhlya yoghurt yang sudah jadi disimpan pada suhu 5°-6°C. Untuk yoghurt yang kita buat sendiri sebaiknya paling lama penyimpanannya selama 1 minggu. Pendinginan yoghurt pada kadar asam yang dikehendaki dapat dilakukan dengan cepat sehingga kualitas yoghurt yang dihasilkan lebih seragam.
Ada dua hal yang harus diperhatikan dalam penyimpanan yoghurt yaitu :
• Yoghurt tidak boleh terkena sinar matahari.
• Tidak boleh ditaruh dalam suhu ruangan, harus disimpan dalam suhu dingin/kulkas tetapi juga tidak boleh diletakkan dalam freezer. Yoghurt tidak boleh disimpan dalam freezer karena bahan dasar yoghurt yang berupa susu dapat pecah dan justru itu akan merusak yoghurt.
Selain beberapa aspek mutu penting yang perlu diperhatikan dalam pembuatan yoghurt terdapat pula beberapa hal yang tidak boleh diabaikan yaitu kebersihan. Kebersihan merupakan hal yang penting, sehingga sebaiknya semua alat yang digunakan direbus terlebih dahulu dalam air mendidih selama 5-10 menit. Apabila kebersihan tidak dijaga dapat mengakibatkan yoghurt tidak jadi, dengan ciri-ciri tidak berasam walaupun berbentuk solid, di permukaan solid ditumbuhi jamur yang berbentuk bintik-bintik hitam dan berbau asam yang sangat tajam.
FUNGSI PERALATAN LABORATORIUM DASAR (2)
2. Peralatan bukan gelas (non glass equipment) pendukung
Klem dan statif (ordinary clamp and statif )
Menjepit buret dalam proses titrasi
Menjepit soxhlet untuk penentuan kadar lemak
Menjepit distilator untuk penentuan kadar air secara distilasi
Menjepit kondensor pada proses pemanasan dengan pendingin balik
Ring dan statif
Menjepit corong pemisah dalam proses pemisahan cairan
Menyimpan corong pada saat proses penyaringan
Spatula (spatulas)
Memindahkan bahan berupa padatan.
Membantu memindahkan padatan pada proses penimbangan
Kawat kasa (wire gauze)
Alas dalam proses pemanasan dengan bunsen atau lampu spirtus
Krus dan penutupnya (crucibles and covers)
Wadah bahan kimia pada saat pemanasan pada suhu sangat tinggi
Terbuat dari porselen atau logam inert
Penjepit krus /krustang (crucibles tongs)
Menjepit botol timbang dan gelas arloji saat menimbang
Memindahkan botol timbang dan gelas arloji dari oven ke eksikator atau sebaliknya
Rak tabung reaksi
Menyimpan tabung reaksi misalnya dalam proses analisis kualitatif
Sikat pembersih tabung (test tube brush)
Membersihkan tabung reaksi, gelas ukur, labu ukur dan lain-lain
Botol semprot (Wash Bottle)
Botol semprot biasa diisi dengan air suling yang digunakan untuk membilas
Karet penutup tabung (rubber stopers)
Menutup botol/ tabung secara rapat
Menutup botol/tabung yang berhubungan botol/tabung yang lain
Kacamata pengaman
(Goggles)
Melindungi mata dari bahan yang dapat menimbulkan iritasi
Masker
Menutup mulut dan hidung agar tidak mengisap dan atau menelan bahan kimia
Sarung tangan
Melindungi tangan agar tidak terjadi iritasi oleh bahan kimia
Klem dan statif (ordinary clamp and statif )
Menjepit buret dalam proses titrasi
Menjepit soxhlet untuk penentuan kadar lemak
Menjepit distilator untuk penentuan kadar air secara distilasi
Menjepit kondensor pada proses pemanasan dengan pendingin balik
Ring dan statif
Menjepit corong pemisah dalam proses pemisahan cairan
Menyimpan corong pada saat proses penyaringan
Spatula (spatulas)
Memindahkan bahan berupa padatan.
Membantu memindahkan padatan pada proses penimbangan
Kawat kasa (wire gauze)
Alas dalam proses pemanasan dengan bunsen atau lampu spirtus
Krus dan penutupnya (crucibles and covers)
Wadah bahan kimia pada saat pemanasan pada suhu sangat tinggi
Terbuat dari porselen atau logam inert
Penjepit krus /krustang (crucibles tongs)
Menjepit botol timbang dan gelas arloji saat menimbang
Memindahkan botol timbang dan gelas arloji dari oven ke eksikator atau sebaliknya
Rak tabung reaksi
Menyimpan tabung reaksi misalnya dalam proses analisis kualitatif
Sikat pembersih tabung (test tube brush)
Membersihkan tabung reaksi, gelas ukur, labu ukur dan lain-lain
Botol semprot (Wash Bottle)
Botol semprot biasa diisi dengan air suling yang digunakan untuk membilas
Karet penutup tabung (rubber stopers)
Menutup botol/ tabung secara rapat
Menutup botol/tabung yang berhubungan botol/tabung yang lain
Kacamata pengaman
(Goggles)
Melindungi mata dari bahan yang dapat menimbulkan iritasi
Masker
Menutup mulut dan hidung agar tidak mengisap dan atau menelan bahan kimia
Sarung tangan
Melindungi tangan agar tidak terjadi iritasi oleh bahan kimia
Subscribe to:
Comments (Atom)